Film horor-supranatural “Ratu Sihir” diproduksi oleh IDN Pictures dengan produser Susanti Dewi dan sutradara Fajar Nugros.
Film “Ratu Sihir” merupakan film horor kedua sutradara Fajar Nugros, setelah
menggarap film “Inang” yang juga diproduksi oleh IDN Pictures dan diproduseri
Susanti Dewi. Film “Ratu Sihir” terinspirasi dari cerita rakyat dari Jawa tentang
kutukan perempuan Bahu Laweyan. Bahu Laweyan adalah julukan yang diberikan
kepada perempuan yang memiliki tanda berukuran sebesar koin dua puluh lima
rupiah di bahu kiri mereka. Kata “laweyan” berasal dari kata Jawa “Selawe,” yang
berarti 25, menunjukkan bahwa mitos ini telah ada sejak lama. Cerita aslinya
beragam, tetapi masyarakat percaya tanda tersebut dihuni oleh jin atau setan, yang
akan membunuh pria manapun yang berhubungan intim dengan Perempuan Bahu
Laweyan.
“IDN Pictures berkomitmen untuk menyajikan karya yang penuh berkualitas dan
memberikan kebaruan bagi industri perfilman Indonesia. Horor masih menjadi
salah satu genre favorit penonton di industri film Indonesia, terutama horor folklore.
Ketika mitologi yang selama ini hanya didengar dan disampaikan dari satu orang ke
orang lain diubah menjadi hiburan audio-visual, penonton akan merasa terhubung
dengan ceritanya. Itulah mengapa jenis horor seperti ini memiliki tingkat penonton
yang tinggi di box office, seperti film-film dari IDN Pictures yaitu Inang (828.168)
dan Qorin (1.330.323),” kata Winston Utomo.
Film “Ratu Sihir” menjadi narasi antitesis dari dongeng tentang saudara tiri dan
akhir bahagia. Film ini mengangkat legenda “Bahu Laweyan” sebagai kutukan antar
dua saudara tiri perempuan, yang terikat keluarga namun tidak terikat secara darah.
Head of IDN Pictures & Produser “Ratu Sihir” Susanti Dewi menambahkan
di film horor terbarunya juga terdapat narasi tentang power abuse vs women
empowerment melalui dua karakter utama perempuan Mirah dan Puti.
“Sebagai perempuan produser yang mengawal proyek film ini, saya merasa perlu
untuk membawa narasi tentang bagaimana tatanan patriarkat yang masih mengakar
dalam kehidupan kita serta penghakiman sosial terhadap perempuan masih begitu
melekat. Melalui karakter Mirah, penonton akan melihat bagaimana dia sebagai
perempuan melawan tatanan sosial yang masih timpang dalam memposisikan
perempuan di dalam kehidupan termasuk di dunia kerja,” kata produser Susanti
Dewi.
Sutradara Fajar Nugros mengungkapkan dalam film “Ratu Sihir” penonton
akan disajikan klenik cerita rakyat dengan unsur-unsur universal yang ada di genre
horor.
Raihaanun yang memerankan Mirah mengekspresikan antusiasmenya untuk segera
melakukan syuting yang menjadi kerja sama pertama kalinya dengan sutradara Fajar
Nugros dan rumah produksi IDN Pictures.
“Ini pertama kalinya aku bekerja sama dengan Mas Nugros, Mbak Santi, dan IDN
Pictures. Sebagai pemeran, aku selalu percaya dengan kekuatan cerita yang ada di
dalam naskah. Hal itu pula yang menentukan aku untuk bergabung di sebuah project
film. Semoga “Ratu Sihir” bisa menjadi hiburan yang memuaskan bagi penonton
di bioskop tahun depan,” kata Raihaanun.
Ikuti terus perkembangan film “Ratu Sihir” melalui akun media sosial resmi
@IDNPictures.
Komentar
Posting Komentar